Drone DJI kini menjadi teknologi kunci dalam mendukung survei udara dan pemetaan geospasial. Dengan hadirnya sensor DJI Zenmuse L2, kemampuan LiDAR untuk menghasilkan data presisi semakin meningkat. Namun, performa sensor ini sangat dipengaruhi oleh platform drone yang digunakan.
Dalam artikel ini, kita membandingkan drone DJI M400 dan DJI M350 saat sama-sama dipasangkan dengan Zenmuse L2. Hasil uji lapangan menunjukkan bahwa drone DJI M400 menghadirkan efisiensi operasional yang jauh lebih tinggi berkat durasi terbang yang lebih panjang, kemampuan real-time terrain following, serta alur kerja yang lebih sederhana.
Halo Robotics adalah distributor resmi dan penyedia layanan drone komersial DJI Enterprise terbesar di Indonesia, berkomitmen untuk menghadirkan solusi drone profesional di berbagai sektor—mulai dari pertambangan, kehutanan, minyak & gas, konstruksi, energi, lingkungan hidup, keamanan, kebakaran, hingga keselamatan publik.
1. Persiapan
Bekerja sama dengan mitra survei bersertifikat DJI, yaitu Cansel dan CA5 Survey, kami mendapatkan lokasi uji coba di Big Rock, Malibu, California. Area seluas 160 acre ini sebagian rusak akibat kebakaran hutan California 2025. Kebakaran tersebut menghanguskan lebih dari 250.000 acre di California Selatan dan menjadi salah satu yang paling parah dalam sejarah negara bagian ini, diperparah oleh kekeringan ekstrem dan angin Santa Ana yang sangat kencang. Beberapa bangunan di lokasi uji habis terbakar, sehingga area ini menjadi skenario nyata yang cocok untuk survei rekonstruksi detail—misalnya untuk klaim asuransi dan perencanaan pembangunan ulang.
Lokasi uji memiliki medan yang bervariasi (perbukitan curam dan dataran), kondisi vegetasi berbeda-beda (dari yang terbakar habis hingga hanya sebagian rusak), serta sisa-sisa struktur bangunan. Kondisi ini sangat ideal untuk membandingkan performa drone dalam aplikasi pemulihan pascabencana.
Untuk pengujian ini, kami menggunakan sensor LiDAR DJI Zenmuse L2 pada kedua drone (M350 dan M400) untuk menangkap data tanah beresolusi tinggi. Data ini memungkinkan terrain following digital pada M350, sementara M400 dilengkapi fitur lebih canggih yaitu real-time terrain following.

2. Perencanaan Misi
Alur kerja pada Drone DJI M400:
- Tentukan batas area pemindaian (scan boundary). Tim survei meninjau ulang batas tersebut untuk memastikan sudah mencakup area kerja.
- Batas area berbentuk poligon ini bisa dibagikan ke tim lapangan untuk kebutuhan safety awareness, agar mereka tahu kapan dan di mana drone akan beroperasi.

Alur kerja pada Drone DJI M350:
Kami kemudian menggunakan DJI FlightHub 2 untuk membuat misi bagi M400, lalu menyinkronkannya ke aplikasi DJI Pilot 2 melalui cloud. File misi tersimpan dalam format KMZ. Meskipun bisa saja membuat misi langsung di remote controller melalui DJI Pilot 2, perencanaan di desktop jauh lebih praktis. Karena FlightHub 2 berbasis web browser, kita tidak perlu repot dengan remote untuk perencanaan. Selain itu, karena misi tersimpan di cloud, anggota tim bisa mengakses dan mengubahnya kapan saja sehingga versi misi selalu terbaru. Namun, FlightHub 2 tidak mendukung perencanaan misi untuk M350. Solusinya, misi M400 yang sudah disinkronkan tadi diunduh dari Pilot 2, lalu diubah platform-nya dari M400 menjadi M350. Dengan cara ini, semua pengaturan sensor dan penerbangan tetap sama.

Pengaturan misi identik untuk kedua drone DJI:
- Ketinggian terbang: 325 ft AGL
- Kecepatan: 20 mph
- Overlap samping: 60%
- Overlap depan: 70%
- Payload: Zenmuse L2
Karena lokasi memiliki variasi medan yang besar, kami menggunakan terrain following untuk kedua drone agar Ground Sampling Distance (GSD) dan kepadatan titik LiDAR tetap konsisten. Tapi, caranya berbeda:
- M400 → sudah punya real-time terrain following berkat sensor visual canggihnya. Cukup atur ketinggian (AGL) di FlightHub 2 dan aktifkan opsi Real-Time Terrain Follow. Sistem otomatis menyesuaikan ketinggian saat drone melewati medan yang naik-turun.

- M350 → tidak ada fitur real-time. Jadi harus import data DSM/DEM ke aplikasi Pilot 2. Langkahnya: pilih mode ketinggian AGL, lalu pilih file DSM sebagai acuan terrain.

2 Pilihan File
- Import Local File → file DSM/DEM dalam format geotiff (WGS84, ellipsoidal, meter).
- Download from Internet → aplikasi bisa langsung unduh ASTER GDEM V3 dengan resolusi 30 m berdasarkan batas misi.
Namun demikian, kedua drone tetap mendukung import DSM/DEM maupun unduhan ASTER untuk terrain following.

Masalahnya, ASTER sering kurang akurat karena datanya lama, dan resolusi 30 m tidak cukup detail. Untuk hasil lebih baik, kami memproses DSM resolusi tinggi dari data foto M400 + L2 sebelumnya, lalu diekspor dengan setting resolusi rendah menggunakan DJI Terra agar cepat diproses di lapangan. File DSM ini lalu di-import ke Pilot 2 untuk misi M350.

Kesimpulannya, alur kerja jauh lebih sederhana di M400. Sementara M350 lebih rumit karena butuh file DSM/DEM tambahan, rawan error (format file, sistem koordinat, ukuran file, dll).

Setelah membuat kedua misi, langsung terlihat ada selisih waktu terbang sekitar 8 menit (M400 lebih singkat ~18% lebih efisien). Padahal parameter misi sama (speed, altitude, overlap). Dugaan awal: selisih ini muncul karena beda metode terrain follow (M400 realtime vs M350 rute pre-plan).Awalnya kami pikir selisih ini akan hilang saat M400 benar-benar terbang naik-turun mengikuti medan. Tapi ternyata salah. Justru real-time terrain follow M400-lah yang membuatnya lebih efisien, dengan total peningkatan efisiensi hingga 16%.

3. Akuisisi Data
Tim teknisi dari CA5 Survey menyiapkan 23 Ground Control Point (GCP) di area operasi. Titik-titik ini digunakan untuk memvalidasi akurasi sistem drone DJI, sekaligus untuk meningkatkan ketepatan model secara absolut. Setiap GCP ditempatkan pada target reflektif agar mudah dikenali dalam data point cloud.

Selama pengumpulan data, digunakan DJI D-RTK 3 sebagai stasiun referensi koreksi. Data RTCM dari base station kemudian dikirim ke OPUS untuk mendapatkan solusi koordinat yang lebih akurat. Koordinat ini diperbarui di DJI Terra, lalu dipakai baik untuk pemrosesan PPK (M350) maupun RTK (M400). Hasilnya, kedua dataset memiliki geolokasi yang lebih akurat.
4. Pemrosesan Data
Dataset dari M400 dan M350 diproses di DJI Terra dengan alur kerja yang sama. Karena M350 diterbangkan tanpa RTK, datanya diproses menggunakan PPK workflow. Tapi langkah pemrosesan identik.Baik M400 maupun M350, ketika dipasangi payload seperti Zenmuse L2 atau P1, sama-sama mendukung RTK dan PPK.




5. Perbandingan Efisiensi
Uji coba di lokasi seluas 160 acre menghasilkan data berikut:
- M350 → 2 kali terbang, total waktu efektif 45 menit (24 menit + 21 menit).
- M400 → 2 kali terbang, total waktu efektif 38 menit (35 menit + 3 menit).
Hasil ini menunjukkan bahwa M400 lebih efisien ~16% dan mampu menutup area sekitar 39% lebih luas per penerbangan dibanding M350.

6. Tantangan Utama pada Sistem M350
- Data elevasi lama: sulit mendapatkan DSM/DEM terbaru untuk terrain following. Model lama sering tidak sesuai kondisi nyata, sehingga operator harus terus memperhatikan.
- Alur kerja lebih rumit: waktu terbang lebih pendek → sering ganti baterai → RTK harus re-connect → rawan error operator.
Kelebihan Drone DJI M400:
- Real-Time Terrain Following → otomatis menjaga ketinggian konstan di atas permukaan tanah. Hasilnya GSD dan kepadatan LiDAR konsisten.
- Efisiensi terbang lebih lama → area lebih luas per misi, lebih jarang ganti baterai.
- Kualitas data lebih baik → lebih sedikit gangguan misi, lebih stabil, minim koreksi pascaproses.
7. Kesimpulan
Terima kasih kepada Cansel dan Chris Nelson, PLS dari CA5 Survey atas kolaborasi dalam uji ini. Dari hasil pengujian, M400 jelas lebih unggul dibanding M350 untuk pemetaan LiDAR di area menengah. Keunggulannya berasal dari:
- waktu terbang lebih lama,
- terrain following real-time,
- alur kerja lebih sederhana.
Hasilnya: efisiensi terbang naik ~16% dan cakupan per penerbangan 39% lebih luas dibanding M350.

Dari hasil uji lapangan, dapat disimpulkan bahwa DJI M400 terbukti memberikan efisiensi lebih tinggi dibandingkan DJI M350 ketika digunakan bersama DJI Zenmuse L2. Keunggulan utama M400 terletak pada durasi terbang yang lebih panjang, fitur real-time terrain following yang lebih akurat, serta alur kerja yang jauh lebih sederhana.
Efisiensi ini tidak hanya mengurangi waktu dan biaya operasional, tetapi juga meningkatkan kualitas data LiDAR secara keseluruhan, sehingga sangat relevan bagi aplikasi survei udara, pemetaan geospasial, hingga pemulihan pascabencana.
Sebagai distributor resmi drone DJI Enterprise di Indonesia, Halo Robotics menyediakan layanan lengkap mulai dari konsultasi teknis, program sertifikasi standar internasional dan regulasi resmi dari Kemenhub (CASR) Part 107.63, hingga demo langsung di lokasi Anda, Gratis!
Baca juga: Alat Survey Pemetaan Anti Ribet: Ini Alasan Profesional Pakai EMLID

Mira Aziza has worked with Halo Robotics since 2014, and is deeply passionate about educating the Indonesian market about the transformative potential of drone technology to improve efficiency, safety, and process optimization at large scale in the biggest companies and government organizations in Indonesia. Having worked directly with the biggest developers of commercial drone technology in the world for more than 10+ years, Mira is well recognized as a credible authority in the commercial drone industry, and is trusted for her coverage of the most important trends shaping the ways that drones are being implemented at enterprise scale across Indonesia.

Eli Moselle is the co-founder and CEO of Halo Robotics, which is widely recognized to be the best drone solutions provider in Indonesia, and the largest enterprise drone distribution company by revenue in Southeast Asia. Eli has a wide-ranging educational background, with a B.A. in Economics and Political Science from the University of British Columbia, and an M.Sc. in Strategic Studies from Nanyang Technological University, combining this with a broad set of experience and skills from more than 20+ years in international business across industries including Oil & Gas, Mining, Agriculture, Power Transmission, Environmental Science, Security and Risk Management. Eli is passionate about #dronesforgood and contributing to positive systemic change with drone technology, and personally reviews much of the writing on the Halo Robotics website to verify the accuracy and quality of the content.