Upaya menghitung jejak karbon membutuhkan data emisi gas rumah kaca yang akurat, terukur, dan dapat diverifikasi. Salah satu kontributor terbesar emisi adalah methane (CHâ‚„), khususnya dari sektor energi, migas, dan pengelolaan limbah. Dengan dukungan methane sensor berbasis drone, proses pengukuran emisi methane kini dapat dilakukan langsung di lapangan, mencakup seluruh plume gas, dan menghasilkan data kuantitatif yang defensible untuk pelaporan ESG dan strategi dekarbonisasi. Berikut tiga studi kasus penerapan methane sensor untuk menghitung jejak karbon.
1. Pengukuran Emisi Methane Fasilitas Energi
Problem
Fasilitas energi seperti LNG memiliki potensi emisi methane dari berbagai peralatan dan aktivitas operasional. Metode pengukuran konvensional berbasis spot measurement tidak mampu menangkap keseluruhan plume gas, sehingga hasilnya sulit digunakan sebagai dasar menghitung jejak karbon yang akurat dan kredibel.
Solution
Dilakukan pengukuran emisi methane menggunakan SeekOps Aerial Methane Sensor System berbasis drone. Drone diterbangkan pada area downwind fasilitas untuk mengumpulkan data konsentrasi methane (CHâ‚„), kecepatan dan arah angin, tekanan, temperatur, serta posisi 3D. Data kemudian dianalisis menggunakan metode Flux Plane, yang mengintegrasikan konsentrasi gas dan vektor angin untuk menghitung total methane flux pada level fasilitas (site-level measurement).
Outcome
- Kuantifikasi emisi methane dalam satuan mass flow rate (kg/jam) dari seluruh plume gas fasilitas
- Deteksi >90% area plume methane dalam satu misi penerbangan
- Identifikasi 2–5 sumber emisi aktif dalam satu fasilitas energi
- Waktu akuisisi data lapangan ±30–60 menit per site
- Perhitungan emisi dapat langsung dikonversi menjadi COâ‚‚e (tCOâ‚‚e/tahun) untuk pelaporan jejak karbon
- Analisis dilakukan near real-time (<1 jam) tanpa koneksi internet

2. Pengukuran Emisi Methane Fasilitas Migas Offshore
Problem
Fasilitas migas offshore memiliki banyak potensi sumber emisi methane seperti venting, process equipment, dan aktivitas operasional. Metode inspeksi manual dan spot measurement tidak mampu menangkap keseluruhan plume gas, sehingga menyulitkan proses menghitung jejak karbon secara akurat.
Solution
Pengukuran dilakukan menggunakan SeekOps Aerial Methane Sensor System berbasis drone yang diterbangkan di area downwind fasilitas offshore untuk menangkap seluruh plume methane dan menghitung laju emisi berbasis flux.
Outcome
- Kuantifikasi emisi methane per area dan per peralatan dengan resolusi kg/jam
- Deteksi kebocoran methane pada jarak hingga ±300–500 meter downwind
- Identifikasi high emitter yang berkontribusi hingga >50% total emisi lapangan
- Pengurangan kebutuhan inspeksi manual hingga >60%
- Data emisi methane langsung dikonversi menjadi COâ‚‚e untuk menghitung jejak karbon operasional
- Mendukung program LDAR dengan prioritas perbaikan berbasis data kuantitatif

3. Pemetaan Emisi Methane Landfill & Area Industri
Problem
Sebuah perusahaan pengelola landfill skala besar menghadapi kesulitan dalam menghitung jejak karbon methane secara akurat. Metode estimasi dan sensor statis tidak mampu menunjukkan sebaran emisi aktual dan menyulitkan pelaporan ESG berbasis data lapangan.
Solution
Perusahaan mengimplementasikan DJI Dock 3 sebagai platform drone otonom 24/7, dipadukan dengan Sniffer4D Nano2+ TDLAS Methane Sensor yang dipasang pada drone DJI enterprise. Drone menjalankan misi terjadwal untuk pemantauan methane, sementara data konsentrasi direkam dan divisualisasikan melalui Sniffer4D Mapper dalam peta distribusi methane 2D dan 3D.
Outcome
- Deteksi methane hingga 1 ppm
- Pemetaan emisi methane 2D & 3D di area luas dalam satu hari operasi
- Identifikasi hotspot methane secara presisi
- Data methane dikonversi menjadi emisi (kg/jam) dan COâ‚‚e/tahun
- Mendukung audit ESG dan sustainability report berbasis data lapangan
Baca juga: Menuju OGMP 2.0 Gold Standard dengan Otomatisasi Drone TDLAS

Mira Aziza has worked with Halo Robotics since 2014, and is deeply passionate about educating the Indonesian market about the transformative potential of drone technology to improve efficiency, safety, and process optimization at large scale in the biggest companies and government organizations in Indonesia. Having worked directly with the biggest developers of commercial drone technology in the world for more than 10+ years, Mira is well recognized as a credible authority in the commercial drone industry, and is trusted for her coverage of the most important trends shaping the ways that drones are being implemented at enterprise scale across Indonesia.

Eli Moselle is the co-founder and CEO of Halo Robotics, which is widely recognized to be the best drone solutions provider in Indonesia, and the largest enterprise drone distribution company by revenue in Southeast Asia. Eli has a wide-ranging educational background, with a B.A. in Economics and Political Science from the University of British Columbia, and an M.Sc. in Strategic Studies from Nanyang Technological University, combining this with a broad set of experience and skills from more than 20+ years in international business across industries including Oil & Gas, Mining, Agriculture, Power Transmission, Environmental Science, Security and Risk Management. Eli is passionate about #dronesforgood and contributing to positive systemic change with drone technology, and personally reviews much of the writing on the Halo Robotics website to verify the accuracy and quality of the content.

